Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan; Papua I

Ada rasa haru tersendiri saat mendengarkan lagu Aku Papua yang dipopulerkan oleh Edi Kondologit. Ada banyak hal berharga yang dapat kita petik sebagai renungan, untuk kembali menelisik konsep berbangsa, bernegara dan berdemokrasi.

Rimba Ratap

I Semalam; Masih aku duduk termangu bersama tebing-tebing curam ini Bingar sungguh dalam kesendirian ini. Semalam lalunya lagi; Aku duduk termangu bersama sunyi bebatuan malam ini Ditemankan pada renung akan relung yang kian busung

Pappisangka Na Takkaluppa

Le'ba' niatoro'mi passingkammana bintoenga na bulanga Le'ba niatoro'mi passingkammana palappopporoka na pa'juluangia Kamma le'ba' kajarianna nikanayya lassu' , lompo, toa, dalle, saribattang, tautoa na matea Kamma le'ba' pa'ruppanna mata allo na bulanga riallo bokoanga

Kebohongan; Sahaja

Ini tentang terasingnya kita dari diri Tentang sepinya kita dalam bingar Tentang bekunya kita dalam terik Tentang butanya kita dalam gemerlap dan gemintang Tentang amalan-amalan yang kembali disoalkan dalam tutur kata dan ini semua tentang kekosongan yang selama ini kita anggap jati dalam wujud harap Sumber: bbci.co.uk Makassar, 2 April 2015

Pendidikan; kesempatan itu masih ada

     Pendidikan. Rasa-rasanya menyoalkan pendidikan bukan lagihal yang asing bagi kita, terutama mengenai kebobrokan sistem pendidikan negara ini. Nyatanya, orang-orang yang menyoalkan pendidikan di Indonesia hampir dari setiap kalangan dan lapisan usia. Bahkan saya secara pribadi pun sudah mulai menyoalkan pendidikan Indonesia sejak duduk dibangku sekolah dasar.

Berazam Bara

Berazam bara bukanlah merebakkan api pada luka Bukan juga membakar segala harap demi rasa bangga Berazam bara cekal segala debar Berani jiwa ditempah dalam nyala kasih yang luhur