Langsung ke konten utama

Disuakan Derita

Sekali pernah kudaki lereng-lereng hidup

Nampak jelas segala luka disua dalam senyum dan gelak tawa
Nampak jelas segala haru bersama tangis juga harap

Samar dalam mata embun teduh dalam serasi
Tiada seringai kicau burung juga suara sungai menyapa diri

Sejatinya diri tulus merasakan segala derita, bertekad segala resah dibasuh ikhlas juga ikhtiar
Sehingga kita satu, padu dalam teduh pandang

Dari lereng-lereng hidup

Segala harap dalam tangis menyanggah duka derita
Dalam tangis munajadnya, seorang ibu meminta sepiring nasi
Kemudian selepasnya, dikecupnya kening si anak sembari merapalkan segala mimpi juga cita

Dari lereng-lereng hidup

Nampak jelas hidup disuakan derita
Kemudian dalam munajad, ikhtiar juga ikhlas, segala derita disuakan harap, haru juga padu

Makassar, 21 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat; Menemukan Kalimat Terindah

   Bismillahirrahmanirrahiim. Ada begitu banyak tanya menggelayut dibenakku. Ya, kebanyakan tentang takdir. Konsep mengenai takdir sebenarnya tak ada; "semua peristiwa adalah apa adanya, dengan korelasi aksi-reaksi" juga kerap datang menyapa imaji.

Perjalanan

Ditiap-tiap kehidupan, kita banyak menempuh jarak Entah itu jarak dari langkah ke langkah Jarak nafas ke nafas Jarak waktu ke waktu atau jarak rindu ke rindu Ditiap-tiap kehidupan, kita banyak menjejaki janji Entah itu janji dari batas ke batas Janji temu ke temu Janji benam ke benam matahari atau janji dari harap ke harap Dalam banyak perjalanan, kita banyak terhenti Entah itu henti lelah ke lelah Henti payah ke payah Henti luka ke luka atau henti dari sejenak ke selamanya Bukan karena tak lagi ingin; Hanya saja jarak, janji, dan perhentian tak selalu serindu, seharap, dan sekekal waktu Makassar, 11 Maret 2019

Kehilangan Wajah

Wajah, dimana wajah itu? Kemana wajah itu? Rumahku, kemanakah wajahmu? Rumahku, kemanakah wajahmu? Ya. Ini adalah kisah tentang rumahku yang tak lagi memiliki mata, hidung, lidah, mulut, telinga dan segalanya. Kecuali kekosongan! Ini adalah kisah dari rumahku yang dahulu memiliki mata teramat tajam. Nanar menatap angkara, murka akan durja dan tiada gentar akan gelegar.