Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Efek Root "SEXY Killer"

Bismillah. Tak akan berpanjang lebar. Viral banget, ya? Jelas viral Film semi dokumenter ini menjadi bahasan jagad sosial media, kaum milenial khususnya. Tanggapanku soal film ini bagaimana? Untuk pengambilan gambar cukup bagus, sound qualitynya juga lumayanlah, untuk permainan narasinya juga bisalah mendapatkan nilai 6 untuk skala 1 sampai 10. Tetapi tidak secara data. Sudah jelas, segala sesuatu memiliki tujuan. Untuk seorang milenial atau pemilih tetap usia muda, tentunya film ini akan menjadi primadona dalam khazanah berfikir, karena seolah "meembuka mata dan membongkar fakta". Data adalah fakta, dan fakta adalah data. Data, dan fakta adalah sesuatu yang bersifat majemuk, saling terkait satu dan lainnya. Data akan selalu menyajikan kebenaran, dan kebenaran akan selalu menjadi bagian dari data. lantas dimana letak kesalahan dari Film ini? Dibandingkan menyebutnya sebagai karya yang gagal, saya mungkin akan menyebutnya sebagai pewajahan yang gagal. ...

Program Kartu Hebat Jilid 2

  Photo dari laman detik.com Bismillah. Menggelitik selama kurang lebih lima tahun, dan masih berencana menggelitik untuk lima tahun berikutnya. Dan memang menggelitik. Saya benar-benar tidak habis berpikir, atau memang pemikiran sudah tidak lagi menjadi instrumen dalam menakar hal-hal paradox. Oh ia, saat ini saya sedang membahas tentang fenomena upaya perampasan hak-hak masyarakat luas, yang kemudian dikemas dalam bentuk program kerja unggulan. Tanpa perlu berpanjang lebar, yang saya maksudkan adalah program kartu-kartu sakti dari rezim saat ini. Jika anda adalah pendukung paslon 01, jangan menafsirkan secara praktis bahwa saya adalah pendukung 02. Catat. Kita lanjutkan. Dalam safari kampanyenya, ada salah satu pasangan yang begitu gemar memamerkan kartu-kartu tolol (saya kehabisan kosa kata untuk kartu ini, maaf) sebagai program unggulan. Loh, itukan kartu untuk rakyat, maka praktis yang diuntungkan adalah rakyat? Kalau anda rakyat yang tolol, ...

Mari "Merdeka"

Bismillahi rahmaani rahiim. Sedikit terlambat memang, saat membuat ulasan soal kemerdekaan. Dari tahun ke tahun, gelaran kemerdeaan semakin megah dan nampak hikmad. Tak sedikit media menayangkan detik-detik pengibaran bendera negara kita. Tapi fokus kali ini bukanlah pada upacaranya, melainkan pasca perhelatan tersebut. Sudah menjadi bahan perbincangan hangat dikalangan masyarakat soal "sudakah kita merdeka?" atau "benarkah kita merdeka?" . Jujur saja, beberapa tahun belakangan ini saya tidak tertarik untuk menanggapi tipikal pertanyaan seperti ini, yang sifatnya tendensius, dan cenderung membuat definisi dari kata merdeka menjadi abstrak. Terlebih lagi saat mencari referensi dari dunia literasi; yang cenderung mendefinisikan merdeka kedalam hal berbeda. Rasanya njilimet banget . Jika ditanya sudakah kita merdeka, tegas saya menjawab, kita sudah merdeka. Buktinya kita tidak lagi harus melakukan kontak fisik di medang perang. Juga tidak lagi harus mengendap...

Oasis Massanrempulu

   Harap akan geliat literasi Massarempulu' benar-benar terpupuk dalam pandang. Ditengah perhelatan lapak-lapak dengan suguhan camilan khas, pernak pernik dan sosialisasi program unguulan instansi pemerintah. Terlihat riang dan sangat antusias, anak-anak kisaran sembilan tahun, tengah mengerumuni Mobil Perpustakaan Keliling milik pemerintah Kota Kabupaten Enrekang. Mereka saling merebut meja, tempat buku-buku menceritakan setiap kisah terbaik.      Pemandangan langka. Seolah menjadi oasis tersendiri, pemandangan ini benar-benar menyejukkan hati bagi penggiat literasi. Bukan tanpa alasan. Lemahnya tingkat kesadaran terhadap urgensitas literasi dan ketimpangan penggunaan teknologi yang kian tak terbendung, telah mengubah paradigma generasi belia dan menggeser "Buku sebagai sumber ilmu" menjadi "Tanya Om Google". Berdasar pada data keluaran Kementrian Komunikasi dan Informasi tahun 2016, Merah Putih bertengger di urutan ke-enam negara dunia dengan 102 jut...

Diorama Badan Siber Nasional

Assalamu alaikum. Belakangan ini dunia portal siber tanah air seolah telah bermetamorfosis menjadi sarana indoktrinisasi yang paling potensial. Banyak pemberitaan tak tentu arah terlebih lagi keabsahannya memberikan warna tersendiri di jagad jurnalisme tanah air. Beberapa tajuk terbukti mampu menjadi oasis ditengah-tengah masyarakat luas. Bukan tanpa sebab tajuk-tajuk ini mendapatkan perhatian masyarakat luas, melihat dari berbagai permasalahan yang melanda tanah air, hal ini tentunya akan menjadi peluang emas bagi para peraup citra dan rupiah. Semisal pemberitaan tentang penistaan agama, serbuan tenaga kerja asing, upaya makar dan yang terbaru adalah seputar buku "Jokowi Undecover". Kesemuanya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca dan terbukti sukses menjadikan portal siber kebanjiran pengunjung; termasuk tanggapan serius dari pihak pemerintah tanah air.   Beredarnya informasi-informasi ini secara bebas dan tak terkendali, ternyata memiliki dampak cuk...

Pencapaian, Eksistensi dan Limit I

Bismillahir rahmaani rahiim. Pencapaian, eksistensi dan limit merupakan tiga hal yang sangat berkaitan. Di dunia ini, dihuni oleh hampir 1,6 milyar jiwa dengan latar belakang dan kepribadia berbeda dan tentunya memiliki entitas keinginan yang berbeda pula. Manusia secara praktis adalah cerminan kompleksitas semesta raya ini. Namun dengan sekian banyak entitas yang ada, manusia secara garis besar justeru mengacu pada tiga hal yang sangat mendasar dan boleh dikatakan tiga hal inilah yang menjadi dasar bentukan siklus dari entitas-entitas yang ada. Ketiga hal ini adalah pencapaian, eksistensi dan limit. Sumber khn.org Manusia, baik secara sadar atau tidak, terus memacu dirinya dalam mengejar keinginan-keinginan untuk memenuhi kebutuhan, hasrat atau kepuasan dan hal lainnya yang dikehendaki dengan berhubungan lansung dengan ketiga hal ini. Tulisan ini sebenarnya merupakan bagian dari materi 3C + 1S yang sering saya paparkan dikalangan pelajar dan rekan-rekan mahasiswa (untuk mate...

Romantisme kebudayaan dan ....

        Sastra dan nilai-nilai kearifan budaya lokal merupakan dua elemen penting yang sejatinya saling melengkapi satu dan lainnya. Satu sebagai wadah dan satunya lagi sebagai pemberi nilai atau esensi kearifan berbudaya yang lebur dalam karyap-karya sastra tanah air.

Catatan; Papua I

Ada rasa haru tersendiri saat mendengarkan lagu Aku Papua yang dipopulerkan oleh Edi Kondologit. Ada banyak hal berharga yang dapat kita petik sebagai renungan, untuk kembali menelisik konsep berbangsa, bernegara dan berdemokrasi.

Pendidikan; kesempatan itu masih ada

     Pendidikan. Rasa-rasanya menyoalkan pendidikan bukan lagihal yang asing bagi kita, terutama mengenai kebobrokan sistem pendidikan negara ini. Nyatanya, orang-orang yang menyoalkan pendidikan di Indonesia hampir dari setiap kalangan dan lapisan usia. Bahkan saya secara pribadi pun sudah mulai menyoalkan pendidikan Indonesia sejak duduk dibangku sekolah dasar.

Sastra tong kon tong

           Sungguh, rasanya miris, pahit sekaligus kecut rasanya ketika saya harus memilih kata pertama untuk tulisan ini. Namun nyatanya kata-kata secara perlahan mulai terangkai.           Menyoal kepada sastra. Sebenarnya ini hal ini mungkin sudah mewabah dikalangan penulis muda, iaitu terkait kesejatian dari sastra itu sendiri.