Langsung ke konten utama

Dalam Resah; Rimba

Kepada pribadi yang manusia
Adakah telah sampai padamu berita luka Rimba?
Semalam suntuk telah Rimba ratap pepohonannya
Celik, kuyu Rimba tetap coba jaga harap, juga do'a
              Dedaun Rimba tetap jaga napas
              Namun rintih Rimba teramat pilu

Adakah telah sampai kepadamu kisah jasa Rimba?
Dilestarinya Rimba tiada lupa pada lara juga harap
Pada baris-baris do'a Rimba
Setia namamu terus diucapnya
             Rimba memahatkan rima juga serasi pada napas
             Pada Rimba kita titip waris anak-cucu
             Namun kemana napas, juga tawa masa datang ketika Rimba tak lagi bernapas dalam serasi?
Dalam segala harap, cemas juga rindu padamu
Rimba, menitipkan rasa juga serasi
Gowa, 21 Desember 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat; Menemukan Kalimat Terindah

   Bismillahirrahmanirrahiim. Ada begitu banyak tanya menggelayut dibenakku. Ya, kebanyakan tentang takdir. Konsep mengenai takdir sebenarnya tak ada; "semua peristiwa adalah apa adanya, dengan korelasi aksi-reaksi" juga kerap datang menyapa imaji.

Perjalanan

Ditiap-tiap kehidupan, kita banyak menempuh jarak Entah itu jarak dari langkah ke langkah Jarak nafas ke nafas Jarak waktu ke waktu atau jarak rindu ke rindu Ditiap-tiap kehidupan, kita banyak menjejaki janji Entah itu janji dari batas ke batas Janji temu ke temu Janji benam ke benam matahari atau janji dari harap ke harap Dalam banyak perjalanan, kita banyak terhenti Entah itu henti lelah ke lelah Henti payah ke payah Henti luka ke luka atau henti dari sejenak ke selamanya Bukan karena tak lagi ingin; Hanya saja jarak, janji, dan perhentian tak selalu serindu, seharap, dan sekekal waktu Makassar, 11 Maret 2019

Kehilangan Wajah

Wajah, dimana wajah itu? Kemana wajah itu? Rumahku, kemanakah wajahmu? Rumahku, kemanakah wajahmu? Ya. Ini adalah kisah tentang rumahku yang tak lagi memiliki mata, hidung, lidah, mulut, telinga dan segalanya. Kecuali kekosongan! Ini adalah kisah dari rumahku yang dahulu memiliki mata teramat tajam. Nanar menatap angkara, murka akan durja dan tiada gentar akan gelegar.